Cari

Quick Info

WATCH_DOGS 2 banyak menuai pujian, terutama di PC mengingat optimasi yang bagus yang dibawanya. Tentu ini menjadi angin segar bagi PC gamer ketika di beberapa waktu lalu terdapat beberapa game level AAA yang memiliki optimasi buruk ketika diluncurkan.
Semoga apa yang dilakukan WD2 menjadi tren di PC gaming tahun depan :)

21 Desember 2016

Etika dan Dunia Maya

Sebuah ironi, memang. Postingan saya sebelumnya menyatakan bahwa saya akan berusaha mencoba meramaikan blog ini sepanjang 2016. Namun, justru di akhir tahun malah saya baru memulai. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan?

Kali ini, saya ingin berbicara yang agak berat. Tentang etika. Tidak mencakup semua etika, memang, namun hanya berfokus kepada etika dalam menyampaikan pendapat. Bosan ga sih, setiap saat membuka linimasa media sosial, bukannya hal menyenangkan justru kekesalan yang didapat? Kecuali Anda penikmat kebencian, tidak banyak faedah yang bisa diraih dari menyebarkan berita berbau kebencian.

Mari sejenak beralih dari hingar bingar polusi digital ke realita. Lalu, perhatikan sejenak sekeliling kita. Amati, bagaimana seseorang berbicara dengan lawan bicaranya. Kecuali Anda sedang tidak beruntung, Anda akan melihat bahwa orang kita, orang Indonesia, begitu penuh keramahan dalam berbicara. Saya pernah beberapa kali tersesat dan memutuskan bertanya kepada orang di sekeliling. Mereka mencoba memberi solusi dengan ramah, padahal setelahnya saya hanya membalas dengan senyuman dan ucapan terima kasih. Oh, jika tidak cukup, coba Anda bermain-main di beberapa situs travel-related yang menyediakan testimoni dari pengunjung asing mengenai objek wisata di Indonesia (terutama penginapan). Tak sedikit yang memuji hospitality atau keramah-tamahan khas Indonesia.

Menurut opini saya, begitulah seharusnya kita. Ada semacam aturan (baik tertulis atau pun tidak) yang mengatur bagaimana berkomunikasi dengan yang lain, bagaimana cara transfer informasi satu sama lain. Lalu, mari kita kembali menyelami dunia maya masa kini. Terlihat perbedaan yang cukup eksplisit. Begitu mudah (sebagian dari) kita menciptakan "api", menghardik orang lain, dan perbuatan yang "tidak Indonesiawi" lainnya. Tak segan tampaknya, saling lempar cacian bak seperti perkara biasa. Lantas, satu hal yang bisa saya tarik : mereka (mari juluki dengan "oknum") serasa perkasa di balik tembok bernama internet.

Ya, apa pernah Anda melihat di dunia nyata orang dengan mudah dan bergeloranya menjelekkan presiden negeri ini? Atau mari bertanya kepada diri sendiri, wahai mereka yang gemar menabur bibit kebencian : apakah Anda tetap segarang itu jika Anda ditempatkan di suatu ruangan, berdua hanya dengan orang yang Anda jadikan target kebencian Anda? Jika ya, silahkan. Anda konsisten, kalau begitu. Jika tidak, mari kurangi intensitas perbuatan yang kurang baik tersebut.

Perlu diperhatikan, untuk saya, Anda, dan kita semua. Internet hanyalah another place. Sebagai mantan anak sekolahan, kita pasti pernah mendengar peribahasa "di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung". Ini juga berlaku untuk internet. Ada serangkaian aturan yang perlu diperhatikan dan ditaati. Salah satunya terkait etika di dunia maya yang acapkali disebut netiquette.

Googling sekejap dan saya menemukan daftar aturan inti dari netiquette. Bagi Anda yang tertarik dapat membacanya di sini. Izinkan saya me-review sedikit isi dari halaman tersebut. Di sana terdapat 10 aturan inti dari netiquette. Salah satunya, seperti yang saya bahas di awal : "Adhere to the same standards of behaviour online that you follow in real life". Intinya, jadilah konsisten. Jika di dunia nyata kita bisa bersikap begitu ramah dan sopan, mengapa di dunia maya seakan sisi gelap kita yang mengambil alih? Bukankah di dunia maya sebagian besar interaksi kita juga dengan manusia?

Saya percaya, pada dasarnya siapa pun tidak ingin memperlakukan orang lain dengan "kurang baik". Hanya mungkin, ada beberapa faktor yang menghambat implementasinya, salah satunya (mungkin) kurangnya pengetahuan. Oh, bolehkan saya sedikit melebar dan menyinggung permasalahan lainnya? Izinkan saya. Jika saya tidak salah, beberapa tahun yang lalu tidak ada lagi pelajaran TIK di jenjang sekolah. Menurut saya, ini suatu hal yang sangat disayangkan. Kurangnya pemahaman bersama mengenai apa yang harusnya diberikan TIK kepada para siswa. Apakah dengan anak-anak sekarang mahir mengoperasikan laptop dan / atau gawai terbaru, lantas TIK bisa dihapuskan? Tentu tidak. TIK itu sebenarnya sangat luas. Salah satunya, seperti yang pernah saya dapatkan dulu di bangku SMP adalah mengenai penggunaan teknologi yang baik. Ada dua aspek : fisik, mencakup ergonomi dalam menggunakan perangkat teknologi; dan non-fisik, mencakup (di antaranya) netiquette itu sendiri dan hal-hal bersifat hukum seperti hak cipta, perjanjian antar pembuat produk teknologi dan pengguna (EULA), dan lainnya. Kita (mungkin) sering memandang sebelah mata mengenai hal-hal ini dan terlalu terfokus pada sisi teknis. Di sinilah harusnya TIK dimaksimalkan, dan dapat dijadikan sebagai bootcamp sebelum pelajar terjun ke buasnya dunia maya, terutama di segi non-teknis.

Akhir kata, mari bersama kita terjemahkan hospitality khas Indonesia ke dunia maya. Dan perbanyak "jaim" di media sosial, tak perlu mencetuskan sesuatu yang tidak baik, selaras dengan hadits berikut :
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)
Sumber: https://muslimah.or.id/5118-bicara-baik-atau-diam.html
 
    Poskan Komentar