Cari

Quick Info

WATCH_DOGS 2 banyak menuai pujian, terutama di PC mengingat optimasi yang bagus yang dibawanya. Tentu ini menjadi angin segar bagi PC gamer ketika di beberapa waktu lalu terdapat beberapa game level AAA yang memiliki optimasi buruk ketika diluncurkan.
Semoga apa yang dilakukan WD2 menjadi tren di PC gaming tahun depan :)

17 Desember 2012

Nexus 7 : Review Awal

Beberapa bulan yang lalu, saya sempat terkesima dengan performa yang mampu dicapai SoC. Kalau belum tau apa itu SoC, ya tanyakan saja sama gadget Apple atau Android kamu. Mereka memakai SoC kok J

Yang saya maksud di sini adalah SoC terakhir keluaran nVIDIA, yaitu nVIDIA Tegra 3. Setelah setahun memakai Tegra 2, saya bermimpi bisa merasakan suksesornya. Dan mimpi tersebut jadi kenyataan.

Adapun gadget yang saya pakai adalah gadget murah meriah, karena memang prinsip saya selalu “beli yang termurah dan terbaik performanya”, bukan “termurah atau terbaik performanya”. Jadinya pilihan saya jatuh ke Nexus 7. Kalau dibandingkan dengan tablet China, memang masih lebih mahal. Tapi coba bandingkan performanya. Sejauh saya berkelana internet, belum ada (sampai saat ini) tablet China yang memasang quad core processor sebagai inti pemrosesannya.


Nexus 7 sendiri keluar dalam 3 varian, yaitu versi 8 GB, 16 GB, dan 32 GB. Lalu muncul varian 3G, yang saya sama sekali tidak tertarik. Sebagai efek samping terhadap harga yang murah, tablet ini tidak dilengkapi kamera belakang, slot microSD, atau slot HDMI. Kenapa saya bilang murah?

Mari lihat spek Nexus 7 yang berada di genggaman saya :
           CPU : SoC nVIDIA Tegra 3 (Quad core @ 1.3 GHz, 12 core ULP nVIDIA GeForce)
           RAM 1 GB DDR3
           Internal storage 32 GB
           7 inch IPS display dengan resolusi 1280x800
           Corning Gorilla Glass
           NFC, WifiDirect

Inti dari Nexus 7
Dan tablet tsb saya dapatkan dengan harga Rp 2,875 juta. Tablet lain dengan spek yang hampir sama rata-rata mencapai harga 4-6 jutaan, tentu dengan tambahan yang tidak begitu esensial. Dan tampaknya fitur NFC dan WiFiDirect belum bisa saya manfaatkan, karena belum ada device yang bisa menjadi lawan mainnya. (sekedar info, NFC dengan fasilitas Android Beam, bisa dimanfaatkan untuk transfer file, atau untuk e-payment. Sedangkan WifiDirect bisa untuk kirim file dengan protokol Wifi yang jauh lebih cepat dibanding Bluetooth. Tidak semua device dengan Wifi bisa melakukan pertukaran file dengan cara ini.)
Tablet ini cukup kontroversial di Indonesia, karena lama sekali muncul. Bahkan saat 15 Des 12, saat saya membelinya di Mangga Dua, saya sempat hopeless. Di dua toko authorized reseller Asus (Asus adalah pembuat Nexus 7), penjaganya mengatakan Nexus 7 belum masuk Indonesia. Di beberapa toko lain juga sama. Ga taunya, di suatu toko authorized reseller lainnya, mereka mengatakan memiliki stok yang 32 GB, sedangkan yang saya cari (dan sesuai budget) adalah versi 16 GB yang sebenarnya ga masuk ke Indonesia. Harapan saya sih ada barang gelap atau barang kapal gitu. Hehehe.

Di internet sendiri harganya sekitar $ 300 (yang kalau masuk Indonesia bisa lebih mahal karena pajak), sedangkan di FJB Kaskus, versi 32 GB dihargai di kisaran 3,5 juta. Dan saya dapat dengan harga kurang dari 2,9 juta. Deal terjadi dan sialnya harus terhubung ke Wifi untuk bisa mulai memakai tablet.
Karena di toko tersebut ga ada pemancar Wifi, jadi ya harus sabar sampai tes di kosan. Dalam kotak yang sederhana tapi elegan ini, saya mendapat 1 tablet Nexus 7 (maunya dapat 2 ya hahaha), charger dan USB cable, manual dan buku garansi. Sayangnya ga ada semacam case dan kabel OTG.

Sampai di kosan, dengan bantuan router + modem Smartfren, saya melakukan semacam pendaftaran device ke server Google. Lalu, problem muncul. Google Play Store selalu error ketika saya mau download app. Hal ini petaka karena secara default, di N7 (istilah keren Nexus 7), tidak ada file manager. Gimana mau instal app yang saya copy dari laptop?

Setelah OS di-upgrade dari v 4.1.2 ke 4.2, lalu ke 4.2.1, Play Store normal dan happy downloading terjadi! Saya coba jalankan NFS Most Wanted yang terasa lag di Acer Iconia A500 saya, dan ternyata jalan kencang sekali di N7 (sekedar info, A500 sudah saya pakai 14 bulan, diperkuat Tegra 2, dan rencananya akan dipakai adik saya). Saya lakukan tes benchmark dengan Antutu Benchmark v3.0.3, hasilnya luar biasa. Skornya dua kali lipat A500 (sekedar info, N7 di Android 4.2.1, semuanya masih stock, dan belum di-root, sedangkan A500 memakai Android 4.1.2 dari custom ROM, rooted, unlocked bootloader. Skor di N7 12560, sedangkan di A500 6560)!

Begitu juga saat saya mengetes game-game yang Tegra 3-optimized, tampilan grafisnya patut diacungi jempol. Sistem Android-nya sendiri smooth. Dan dengan membawa nama Nexus, tablet ini akan mendapat update Android pertama kali selama 18 bulan ke depan (sejak Juni 2012).

Hal lain yang buat saya terkesan ada layar IPS dengan Corning Gorilla Glass-nya, dan densitas layar yang tinggi, membuat tampilan menjadi begitu jernih dan tajam. Dan dengan ukuran yang lebih kecil dari tablet 10 inci, membuat bobotnya berkurang hingga setengahnya.

Well, saya ga gitu peduli dengan bobot atau pun layar. Yang saya perhatikan adalah raw power nya. Inilah alasan kenapa saya memilih N7 dan berpaling dari incaran sebelumnya, Ainol Novo 7 Flame. Flame masih dual core, dan internal storage 16 GB, walaupun memiliki slot microSD. Dengan harga N7 yang hampir 2 kali lipatnya, saya ga begitu merasa rugi, toh spek yang saya dapat hampir 2 kali lipat.

Dan yang buat saya merasa amazing, adalah Tegra 3-nya. Pengalaman saya dengan Tegra 2, saya harus menginstal script tertentu agar bisa mengatur clock prosesor (saya pakai lulzactive bawaan dari custom ROM Jelly Bean buatan civato, dari XDA), dan itu pun hanya sebatas scaling clock, tanpa opsi menonaktifkan core. Beda dengan Tegra 3, di mana secara otomatis (saya bahkan belum berniat untuk rooting N7) dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan. Jika dalam keadaan idle, hanya satu core yang aktif, dan clock di-set 340 MHz. Begitu app jalan, tergantung seberapa berat app nya, jumlah core yang aktif juga akan beragam. Untuk game-game berat, seperti NFS Most Wanted, semua core akan aktif dan clock menjadi 1200 MHz untuk masing-masing. Hal ini membuat N7 lebih hemat energi.

Sayang, jika tablet ini dipakai menjalankan app atau game berat, bagian dekat speaker akan menjadi hangat. Tampaknya di situ letak SoC Tegra 3 yang bekerja keras, baik prosesor maupun GPU. Semoga saja tidak sampai over-heating.

Sejauh ini saya begitu terkesan dengan N7. Masalah slot microSD ga masalah, karena saya memiliki versi 32 GB (yang tersedia hanya 27 GB). Masalah kamera juga ga masalah, saya rela ga ada kamera asal bisa merasakan power Tegra 3.

Layarnya juga memuaskan, dan support 10 jari seperti di A500. Walau begitu, layarnya begitu reflektif, dan meninggalkan bekas sentuhan di sana sini. Sayangnya, saya belum memiliki budget untuk membeli antigores (kalaupun itu perlu) dan yang terpenting smart case. Tampaknya, dalam waktu dekat, hanya kabel OTG yang akan saya beli (harganya RP 6.700, sangat jauh dari yang saya tanya di Mangga Dua, net Rp 50.000).
Oh ya, sedikit perbandingan dengan A500, N7 memiliki baterai yang lebih kecil (4325 mAH, berbanding 2 x 3600 mAH miliki A500), N7 tidak disertai audio sekelas Dolby (di A500 ada), N7 memakai back cover plastik (A500 alumunium), speaker yang hanya satu (A500 memiliki dua, di kanan dan kiri), tombol fisik untuk lock orientation (di N7 tidak ada, di A500 ada), dan kamera yang hanya kamera depan 1,3 MP di N7 (A500 dual camera, belakang 5 MP + flash + 720p recording, dan di depan 2 MP + 480p recording).
Satu lagi device yang memiliki perbandingan harga dan performa yang maksimal, sebagaimana semua device yang pernah saya pilih (Sony Ericsson X8, Android device generasi awal, saya beli setelah harga tinggal separuh harga awal, dan hingga kini masih banyak yang develop custom ROM dan kernel di XDA, bahkan ada Jelly Bean untuk device ini!; laptop pertama saya merk Axioo, laptop Intel Core 2 Duo paling murah di masanya, dan sampai 3 tahun lebih dipakai, tidak pernah sekalipun bermasalah, apalagi sampai dibawa ke “rumah sakit”; laptop kedua Asus A43S VX022D, laptop gaming dengan VGA mid-end yang mampu menjalankan semua game akhir 2012 dengan setting medium sampai high, dan harganya tergolong murah; tablet pertama A500, banyak disupport di XDA dengan berbagai custom ROM dan kernel, tablet Tegra 2 10 inci termurah di masanya, dipakai 14 bulan tanpa ada masalah sedikit pun, padahal yang saya punya adalah barang kapal!; dan yang terakhir adalah Nexus 7 yang baru saja saya bahas.)

Tambahan lagi, saya rasa saya merupakan salah satu yang beruntung bisa membeli N7 secara offline di toko, karena yang lainnya harus beli di luar negeri, atau pre order dari online store. Semoga ke depannya, semakin banyak N7 dipajang di toko-toko komputer.
Nexus 7 saya :)

Posting Komentar